Warning: session_start(): Cannot send session cookie - headers already sent by (output started at /home/vanclcvy/public_html/index.php:3) in /home/vanclcvy/public_html/index.php on line 4

Warning: session_start(): Cannot send session cache limiter - headers already sent (output started at /home/vanclcvy/public_html/index.php:3) in /home/vanclcvy/public_html/index.php on line 4
http://kurbanberencana.org/detail-artikel-Kurban%20adalah%20tanda%20Cinta%20kita%20kepada%20Allah%20SWT&id_blog=3-Kurban Berencana RCI
SAAT INI SUDAH ADA 33 ORANG YANG TELAH MENJADI DONATUR KURBAN BERENCANA RCI

Kurban adalah tanda Cinta kita kepada Allah SWT

Cukuplah apa yang terjadi pada Ibrahim dan putranya menjadi contoh bagi kita untuk mencintai Allah di atas segalanya. Ketika cinta Allah kepada kita terasa sedang pada puncaknya, bukan berarti Allah tidak meminta rasa cinta kita kepada-Nya. Ketika Allah sedang menunjukan rasa cintanya kepada Ibrahim dengan mengaruniakan Ismail sebagai putra yang ditunggu-tunggu, ketika sedang dalam kondisi cinta-cintanya dengan anaknya, tetapi Allah meminta sesuatu yang mungkin tidak masuk diakal kita. Hanya untuk menguji seberapa besar rasa cinta Ibrahim kepada Tuhannya.

Maka tatkala sampai (pada usia sanggup atau cukup) berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata : Hai anakku aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pemdapatmu? Ia menjawab: hai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS. Ash Shaffaat[37]: 102)

Allah mengisyaratkan lewat mimpinya berkali-kali agar menyembelih anak yang sangat disayanginya, Ismail. Sebuah perintah yang sangat berat, ditengah-tengah keadaan bahwa Ibrahim sangat membutuhkan keturunan. Akan tetapi, inilah bukti keimanan dan ketaqwaan Ibrahim kepada tuhannya bahwa ia menyerahkan dirinya seutuhnya kepada penciptanya. Tanpa banyak bicara dan diskusi untuk menaati perintah tersebut. Hal tersebut juga ditunjang dengan kecintaan Ismail kepada Sang Pencipta Allam semesta bahwa sesungguhnya jiwanya berada dalam genggamannya, maka ketika Ayahnya mengutarakan maksud isyarat mimpinya dengan ringan Ismail menjawab, Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

Hal tersebut telah menjadi sebuah cerita yang menginspirasi banyak orang untuk senantiasa berserah diri kepada Allah SWT bahwasanya sungguh setiap diri manusia itu berada dalam kekuasaan Tuhannya. Sehingga setiap keadaan yang menimmpa ketika bisa dikembalikan kepada Allah Sang Penggenggam jiwa. Maka ketika Ibrahim dan Ismail telah berada pada puncak keimanan, ketaqwaan, dan keikhlasan, Allah menunjukan kekuasaan-Nya dengan mengganti Ismail dengan seekor binatang sembelihan.

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar
(QS. Ash-Shaffaat[37]: 107)

Ibadah yang dilakukan Ibrahim dan Ismail telah menjadi syariat bagi umat islam untuk melakukan ibadah napak tilas tersebut. Ibadah qurban yang dalam istilah fiqh disebut sebagai Udhiyyah mengandung arti hewan yang disembelih waktu dhuha, yaitu waktu saat matahari naik atau secara terminologi fikih berarti hewan sembelihan yang terdiri onta, sapi, kambing pada hari raya ‘Idul Adha dan hari-hari tasriq untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kata Qurban sendiri bearti mendekatkan diri kepada Allah, maka terkadang kata itu juga digunakan untuk menyebut udhiyyah.

Banyak hikmah yang dapat kita petik dari penggambaran peristiwa ibadah qurban. Diantaranya adalah sebagai upaya untuk mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya yang jumlahnya demikian banyak, sehingga tak seorangpun dapat menghitungnya (QS Ibrahim[14]: 34). Kemudian dalam rangka menghidupkan sunnah para nabi terdahulu, khususnya sunnah Nabi Ibrahim, yang dikenal sebagai Bapak agama monoteisme (Tauhid). Juga dalam rangka menghidupkan makna takbir di Hari Raya Idul Adha, dari tgl 10 hingga 13 Dzulhijjah, yakni Hari Nasar (penyembelihan) dan hari-hari tasyriq. Memang syariat agama kita (islam) menggariskan, bahwa pada setiap Hari Raya, baik Idul Fitri ataupun Idul Adha, setiap orang Islam diperintahkan untuk mengumandangkan takbir. Hal ini memberikan isyarat kepada kita, bahwa kebahagiaan yang hakiki, hanya akan terwujud, jika manusia itu dengan setulusnya bersedia memberikan pengakuan dan fungsi kehambaannya di hadapan Allah swt. dan dengan setulusnya bersaksi dahwa hanya Allah sajalah yang Maha Besar,Maha Esa, Maha Perkasa dan sifat kesempurnaan lainya.

Selain yang sifatnya ubuddiyah, ibadah kurban juga sebuah ibadah muamalah karena dengan ibadah kurban kita bisa berbagi dengan orang-orang disekitar kita dengan kita punya hak atas binatang sembelihan kita 1/3 bagian. Di dalam ibadah kurban juga terdapat dimensi keikhlasan karena sesungguhnya yang sampai pada Allah itu bukan daging atau darahnya, tetapi yang sampai pada Allah adalah keikhlasan kita.

Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan kamu. Demikianlah Dia menundukannya untukmu agar kamu mengagunggak Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada oran-orang yang berbuat baik. (QS. Al Hajj[22]: 37)

Itulah tanda cinta dari Ibrahim dan Ismail terhadap Allah swt, mereka berserah diri dengan totalitas yang tidak diragukan lagi. Dan mereka kemudian menjadi orang-orang yang muhsin (orang yang berbuat baik). Semoga kita pun kemudian bisa mengikut jejak mereka dan kita pun menjadi orang-orang yang muhsinin. Sungguh Allah berjanji begi mereka yang menghadiahkan kebaikan itu limpahan pahala yang agung di sisi-Nya. Maka berbahagialah mereka yang berqurban, dan termasuk dengan qurbannya golongan orang-orang muhsinin.

Wallohu alam bishowab.

Itulah tanda cinta dari Ibrahim dan Ismail terhadap Allah swt, mereka berserah diri dengan totalitas yang tidak diragukan lagi.